• Bagaimana Rupa Hunian Nyaman Terpadu di Palu?

    Kaca jendelanya telah dipasang, sapuan cat tipis berwarna oranye terlihat digores menyengaja diatas kaca, sinyal jika jendela itu telah selesai. Dalam soal konstruksi bangunan, umumnya kaca jendela ialah sisi terakhir dipasang. Berarti jika kaca itu telah tertempel di masing-masing satu jendela, mengisyaratkan jika semua konstruksinya selesai, hampir semua fungsinya bisa dipakai. 

     

    Hijau, putih, serta oranye, memang sudah terlihat semakin meriah, jadi warna menguasai bangunan-bangunan baru diatas tempat lega disamping bebukitan Kelurahan Duyu, Kota Palu. Pekerjaan konstruksi dikebut, kompleks Tempat tinggal Nyaman Terpadu - ACT di Duyu telah mulai tampak memiliki bentuk. 

     

    pertolongan ACT (IST) 

    Dihitung semenjak pertama-tama pekerja konstruksi mulai kerja, Senin (5/11) mengisyaratkan lebih satu pekan proses pembangunan Tempat tinggal Nyaman Terpadu atau Integrated Community Shelter (ICS), untuk penyintas gempa serta likuefaksi di Duyu berjalan. Satu lokal tempat tinggal dengan keseluruhan 16 pintu, selesai dituntaskan. Satu lokal lainnya, tengah dalam proses akhir. 

     

    Dede Abdulrahman, Koordinator Pembangunan Tempat tinggal Nyaman Terpadu ACT menuturkan, satu minggu berjalan, tempat tinggal di Duyu telah sudah tuntas 55%. “Rinciannya telah jadi satu lokal tempat tinggal dengan 16 pintu, telah dicat, terpasang jendela, dinding, lantai, serta atap komplet. Satu lokal tempat tinggal kembali telah terpasang dinding, lantai serta atap, telah dicat juga, tinggal finishing dikit. Tiga lokal tempat tinggal kembali tinggal menempatkan atap, serta satu tempat tinggal kembali masih tetap berbentuk fondasi serta persiapan pemasangan kuda-kuda untuk atap serta dinding,” jelas Dede, Senin (5/11). 

     

    Selanjutnya Dede menuturkan, sama dengan gagasan pembangunan, Tempat tinggal Nyaman Terpadu - ACT di Kelurahan Duyu, Palu, akan dibuat sekitar enam lokal tempat tinggal dengan semasing 16 pintu. 

     

    “Setiap tempat tinggal ini telah ada konsepnya. Tempat tinggal lokal miliki 16 pintu dengan ukuran 9,5 mtr. x 24 mtr., Berarti jika ada enam lokal di Duyu, keseluruhan ada 96 unit untuk semasing keluarga. Sesudah itu kami ikut bangun masjid, klinik, gudang, ruangan sekretariat, ikut ajang bermain anak-anak,” jelas Dede. 

     

    Lembur sampai malam 

     

    Cuma melalui sesaat selesai matahari Palu muncul dari bagian Gunung Sidole - puncak paling tinggi di samping Timur Kota Palu - pekerja konstruksi Tempat tinggal Nyaman Terpadu - ACT di Duyu mulai bergegas. Kembali pada rutinitasnya, kembali menggenggam kayu, papan, atap, triplek, ikut berbagai perkakas andalan. Pagi untuk kerja sudah diawali semenjak jam 07.00 WITA. 

     

    Baca Juga : triplek untuk tembok

     

    “Waktu rehat di waktu shalat, untuk makan serta istirahat sesaat. Lalu mengawali kembali kerjanya. Umumnya semua baru berhenti sampai jam 11 malam,” kata Dede. 

     

    Fakta ini juga yang pada akhirnya punya pengaruh besar pada kecepatan pembangunan Tempat tinggal Nyaman Terpadu - ACT di Duyu. Semua pekerja konstruksi baik masyarakat lokal ataupun relawan yang dibawa dari Jawa, kompak mengawali kerja jam 07.00 serta mengakhirinya mendekati larut malam. 

     

    “Total ada 43 orang pekerja konstruksi dari Jawa Barat, serta 33 orang relawan asal Kelurahan Duyu. Alhamdulillah relawan di sini tetap dijaga skema makannya. Supaya kesehatan serta dayanya ikut cepat sembuh. Semua untuk tempat tinggal yang lebih wajar untuk beberapa pengungsi ini cepat tuntas,” kata Dede. 

     

    Kerja lembur dalam gelap malam juga tidak sempat jadi rintangan buat beberapa puluh pekerja konstruksi ini. Hadiyat contohnya, lelaki kelahiran Bandung 48 tahun kemarin itu, sekarang bertempat di Kawalu, Tasikmalaya. Dia menceritakan, kerja pada malam malah membuat bertambah nyaman. 

     

    “Karena sudah biasa kerja malam. Sekalian guyon ikut tidak kerasa. Di sini suka juga, makan terjamin, minum terjamin. Istirahat ikut cukuplah. Jika malam justru dingin, sejuk. Tidak seperti siang di sini panas sekali,” papar Hadiyat. Satu motivasi lainnya yang menyebabkan Hadiyat tidak kenal capek, ialah fakta pentingnya kenapa dia ingin dibawa terbang jauh dari Pulau Jawa; yaitu menolong memulihkan duka pengungsi. “Itu kebanggaan sekali. Kita jauh dari Jawa. Dapat nolong orang di sini. Saling saudara, banyak pula yang muslim di sini. Pengalaman ini, buat narasi kelak ke anak-cucu,” kata Hadiyat. 

     

    Dibawah temaram lampu, setelah azan Isya, Hadiyat masih juga dalam tugasnya. Sambil menggenggam pensil, penggaris, serta gergaji, Hadiyat konsentrasi serta tekun menggores ujung pensilnya diatas kayu. Malam itu, Senin (5/11), dia tengah menaruh hitung-hitungan angka di kepala, hitungan mengenai berapakah panjang kayu kasau (rusuk atap) yang siap dipasang untuk menyokong atap. 

     

    “Sesegera mungkin rumah untuk pengungsi ini mesti tuntas. Janganlah semakin lama. Kasihan mereka telah satu bulan tidurnya di tenda-tenda. Semoga semua sehat, semua rekan-rekan relawan konstruksi ikut sehat. Doakan kami,” tutup Hadiyat berharap doa (Adv) 

     


  • Comments

    No comments yet

    Suivre le flux RSS des commentaires


    Add comment

    Name / User name:

    E-mail (optional):

    Website (optional):

    Comment: